Archive for the Uncategorized Category

Konsep ‘Bangsa’ Bagi Orang Melayu Bahagian 2

Posted in Uncategorized on 28 Mei 2018 by zanas

MELAYUMelalui posting yang pertama, pembaca perlu faham bahawa konsep ‘Melayu’ sebenarnya bukan bermaksud bangsa, kerana bangsa bagi orang-orang ‘Melayu’ adalah pangsa atau kedudukan dalam masyarakat. Contohnya ‘bangsa raja’, atau ‘bangsa hamba’ atau ‘bangsa pedagang’ dan sebagainya.

Oleh itu, ke’Melayuan’ seseorang itu ketika zaman beraja ditentukan oleh ke’raja’an atau ke’datu’an, lebih bersifat territorial dari ikatan nasab dan keturunan. Seperti halnya orang Karo dan Batak di Sumatera, mereka menjadi Melayu ketika diperintah oleh kesultanan Deli dan semasa kerajaan Sriwijaya, kemudian mereka kembali kepada kesukuan mereka iaitu suka Karo dan Batak.
Hal yang sama berlaku di Borneo kepada orang Dayak. Mereka pernah menjadi ‘Melayu’ semasa daerah mereka dibawah kuasa kesultanan Brunei dan Sulu, apabila sudah bebas dari kedua-dua kesultanan itu, mereka memilih untuk menjadi ‘Dayak’.
Jadi konsep ke’Melayu’an itu merupakan seperti tamadun, atau peradaban yang sentiasa berkembang dan sentiasa boleh di definasikan semula mengikut keadaan. Dalam kata lain, Melayu sebenarnya dinamik dan cosmopolitan – hingga keturunan seperti Arab dan India boleh diterima sebagai Melayu.
Untuk memahami lagi konsep ‘Melayu’ itu, ada dua perkara yang perlu difahami. Pertama, konsep ‘Melayu’ tidak dapat dipisahkan dari ‘kesultanan’ atau ke’raja’an. Kerajaan di sini bukan bererti ‘government’ tetapi ‘kingdom’.
Oleh kerana orang Melayu tidak boleh wujud tanpa raja, maka pada zaman polity iaitu zaman muncul ke’raja’an kecil-kecil seperti Deli, Siak, Pasai, Kedah, Langkasuka, Melaka dan Riau, orang-orang Melayu akan menjadi Melayu dengan hanya adanya kerajaan atau hidup bawah naungan sesuatu kerajaan.
Begitu juga denga raja, baginda tidak boleh hidup tanpa rakyat. Namun rakyat sesebuah kerajaan tidak wajib untuk bersetia dengan sesuatu kerajaan. Mereka boleh berpindah dan menukar raja mereka iaitu dengan merantau dan menjadi rakyat di bawah sesebuah kerajaan yang lain.
Dengan kata lain, mereka akan mencari kemakmuran dengan sesebuah kerajaan besar, contohnya Melaka apabilla Melaka menjadi pusat perdagangan antarabangsa ketika zaman kegemilangannya. Oleh kerana seseorang rakyat boleh ‘keluar dan masuk’ ke mana-mana kerajaan mereka suka berlandaskan ke’Melayu’an pemerintahnya, ini menanam sikap yang tidak akrab dengan tanah air atau tanah.
Bagi orang Melayu, tanah hanya digunakan, bukan dimiliki. Ini kerana mereka sentiasa bergerak dari sesuatu ke’raja’an Melayu kepada satu lagi ke’raja’an Melayu yang lain. Apabila Sultan Mahmud tewas kepada Portugis, ramai orang Melayu mengikut baginda ke Johor-Riau kerana orang Melayu tidak setia kepada bumi Melaka tanpa rajanya.
Oleh kerana Melayu tidak taksub kepada tanah, dan merasakan mereka boleh membuka di mana saja tanah baru asalkan adanya ke’raja’an Melayu, ini memberi sikap yang contrast dengan kaum Cina yang datang kemudiannya. Bagi kaum Cina, tanah dan harta adalah segalanya. Mereka faham konsep ‘hakmilik’ dan ‘jualbeli’ harta.
Tidak seperti orang Melayu yang akan tinggalkan harta dan tanah apabila merantau, kaum Cina akan pastikan apa saja yang dimiliki akan boleh di tunaikan. Mungkin ini juga punca Melayu kurang membuat wasiat, atau mengagihkan harta kepada keturunan mereka sebelum mereka mati. Berapa banyak tanah orang Melayu kembali kepada kerajaan kerana tidak difaraidkan.
Dalam posting akan datang, saya akan huraikan perbezaan contrast tentang konsep kekayaan bagi orang Melayu dan kaum Cina.
Bersambung.
SUMBER : sribuana.blogspot.com
Advertisements

Hubungan Politik dan Agama

Posted in Uncategorized on 28 Mei 2018 by zanas

Image result for Hubungan Politik dan Agama

1. Pengertian Politik

Secara etimologis, politik berasal dari kata Yunani polis yang berarti kota atau negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara, politika yang berarti pemerintahan negara dan politikos yang berarti kewarganegaraan.

Istilah politik berasal dari kata Polis (bahasa Yunani) yang artinya Negara Kota. Dari kata polis dihasilkan kata-kata, seperti:
1. Politeia artinya segala hal ihwal mengenai Negara.
2. Polites artinya warga Negara.
3. Politikus artinya ahli Negara atau orang yang paham tentang Negara atau negarawan.
4. Politicia artinya pemerintahan Negara.

Secara umum dapat dikatakan bahwa politik adalah kegiatan dalam suatu system politik atau Negara yang menyangkut proses penentuan tujuan dari system tersebut dan bagaimana melaksanakan tujuannya.
Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Kekuasaan yaitu kemampuan sesorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok sesuai dengan keinginan dari pelaku.

Ø Aristoteles (384-322 SM) dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut pengaturan dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) dari sumber-sumber (resources) yang ada

· Pengertian politik dari para ilmuwan:

Ø Johan Kaspar Bluntschli dalam buku The Teory of the State: “Ilmu Politik adalah ilmu yang memerhatikan masalah kenegaraan, dengan memperjuangkan pengertian dan pemahaman tentang negara dan keadaannya, sifat-sifat dasarnya, dalam berbagai bentuk atau manifestasi pembangunannya.” (The science which is concerned with the state, which endeavor to understand and comprehend the state in its conditions, in its essentials nature, in various forms or manifestations its development).
Ø Roger F. Soltau dalam bukunya Introduction to Politics: “Ilmu Politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan itu; hubungan antara negara dengan warganegaranya serta dengan negara-negara lain.” (Political science is the study of the state, its aims and purposes … the institutions by which these are going to be realized, its relations with its individual members, and other states …).

Ø J. Barents dalam bukunya Ilmu Politika: “Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara … yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, ilmu politik mempelajari negara-negara itu dalam melaksanakan tugas-tugasnya.”

Ø Joyce Mitchel dalam bukunya Political Analysis and Public Policy: “Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk seluruh masyarakat.” (Politics is collective decision making or the making of public policies for an entire society).

Ø Harold D. Laswell dan A. Kaplan dalam buku Power Society: “Ilmu Politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan”, dan dalam buku Who gets What, When and How, Laswell menegaskan bahwa “Politik adalah masalah siapa, mendapat apa, kapan dan bagaimana.”

Ø Kosasih Djahiri dalam buku Ilmu Politik dan Kenegaraan: “Ilmu politik yang melihat kekuasaan sebagai inti dari politik melahirkan sejumlah teori mengenai cara memperoleh dan melaksanakan kekuasaan. Sebenarnya setiap individu tidak dapat lepas dari kekuasaan, sebab memengaruhi seseorang atau sekelompok orang dapat menampilkan laku seperti yang diinginkan oleh seorang atau pihak yang memengaruhi.”

Ø Wirjono Projodikoro menyatakan bahwa “Sifat terpenting dari bidang politik adalah penggunaan kekuasaan oleh suatu golongan anggota masyarakat terhadap golongan lain. Dalam ilmu politik selalu ada kekuasaan atau kekuatan.” Idrus Affandi mendefinisikan: “Ilmu politik ialah ilmu yang mempelajari kumpulan manusia yang hidup teratur dan memiliki tujuan yang sama dalam ikatan negara.”

2. Pengertian Agama Dalam Arti Sosial

Mendefinisikan agama secara komprehensif yang mampu merangkum semua aspek nampaknya menjadi suatu permasalahan yang pelik bahkan mustahil untuk dilakukan mengingat luasnya aspek yang terkandung dalam agama itu sendiri.

Ø Elizabeth K. Nottingham, misalnya, menyatakan bahwa tidak ada definisi tentang agama yang benar-benar memuaskan karena agama dalam keanekaragamannya yang hampir tidak dapat dibayangkan itu memerlukan deskripsi (penggambaran) dan bukan definisi (batasan). Lebih jauh, Nottingham menegaskan bahwa fokus utama perhatian sosiologi terhadap agama adalah bersumber pada tingkah laku manusia dalam kelompok sebagai wujud pelaksanaan agama dalam kehidupan sehari-hari dan peranan yang dimainkan oleh agama selama berabad-abad sampai sekarang dalam mengembangkan dan menghambat kelangsungan hidup kelompok-kelompok masyarakat.

Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.

Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
· menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
· menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan

Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

3. Hubungan Politik dengan Agama

Hubungan politik dengan agama tidak dapat dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa politik berbuah dari hasil pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang harmonis dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini disebabkan, pertama, oleh sikap dan keyakinan bahwa seluruh aktifitas manusia, tidak terkecuali politik, harus dijiwai oleh ajaran-ajaran agama; kedua, disebabkan oleh fakta bahwa kegiatan manusia yang paling banyak membutuhkan legitimasi adalah bidang politik, dan hanya agamalah yang dipercayai mampu memberikan legitimasi yang paling meyakinkan karena sifat dan sumbernya yang transcendent.

Agama secara hakiki berhungan dengan politik. Kepercayaan agama dapat mempengaruhi hukum, perbuatan yang oleh rakyak dianggap dosa, seperti sodomi dan incest, sering tidak legal. Seringakali agamalah yang memberi legitimasi kepada pemerintahan. Agama sangat melekat dalam kehidupan rakyat dalam masyarakat industri maupun nonindustri, sehingga kehadirannya tidak mungkin tidak terasa di bidang politik. Sedikit atau banyak, sejumlah pemerintahan di seluruh dunia menggunakan agama untuk memberi legitimasi pada kekuasaan politik.

Di dalam sejarah Islam, masuknya faktor agama (teologi) ke dalam politik muncul ke permukaan dengan jelas menjelang berdirinya dinasti Umayyah. Hal ini terjadi sejak perang Siffin pada tahun 657, suatu perang saudara yang melibatkan khalifah ‘Ali b. Abi Talib dan pasukannya melawan Mu’awiyah b. Abi Sufyan, gubernur Syria yang mempunyai hubungan keluarga dengan ‘Uthman, bersama dengan tentaranya. Peristiwa ini kemudian melahirkan tiga golongan umat Islam, yang masing-masing dikenal dengan nama Khawarij, Shi’a, dan Sunni.

4. Pengaruh Hubungan Politik dan Agama

Dalam kehidupan bernegara, bidang politik sangat diperlukan. Namun semua ilmu yang berhubungan dengan politik tidak dapat dipisahkan dengan ilmu dan konsep agama yang telah ada. Pada agama ada suatu kalimat yang membuat dan merupakan konsep awal politik yaitu “Allah memerintahkan kepada manusia untuk tidak mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi (Q. 6:151)”, jadi Allah melarang perbuatan jelek, perbuatan jahat dan ketidakadilan.

Ini dapat diartikan bahwa semua ilmu politik merupakan bentuk nyata dari penggunaan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai contoh, dalam ilmu politik terdapat pemilihan pemimpim berdasarkan demokrasi, konsep itu didapat dari ilmu agama yang tidak menginginkan adanya perpecahan para pejabat yang akan menyengsarakan rakyat.
Dan masih banyak lagi yang merupakan konsep dalam agama dan diadaptasi serta di jadikan politik dalam berbangsa dan bernegara.

Sumber
http://jaringanilmupengetahuan.blogspot.com/2010/09/hubungan-antara-agama-dengan-politik.html
http://amnaj.wordpress.com/2009/04/23/hubungan-agama-dan-politik/
http://fransobon.blogspot.com/
http://islamlib.com/id/arsip

Kelebihan Bulan Ramadhan dan Malam Lailatul Qadar

Posted in Uncategorized on 28 Mei 2018 by zanas

Image result for lailatul qadr

“Berpuasa itu adalah perisai (benteng) dari api neraka, ibarat perisai salah satu kalian dalam peperangan (Hadist)”. Jelaslah, begitu besar keutamaan bulan suci Ramadhan.

Datangnya bulan suci ini disambut gembira para malaikat dan umat Nabi Muhammad, hanya orang-orang munafik yang tidak merasa gembira. Betapa tidak, bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sarat rahmat, maghfirah (ampunan) dan bulan pembebasan dari api neraka bagi yang mengharap rahmat Allah, dengan imanan wahtisaban (iman dan mengharapkan pahala Allah semata).

“…Bulan Ramadhan awalnya merupakan rahmat, pertengahannya adalah maghfirah (ampunan) dan di akhir bulan Ramadhan adalah pembebasan dari api neraka…”. (Hadist). Termasuk keutamaan bulan puasa bagi seorang hamba yang senatiasa beribadah dengan keimanan dan mengharap ridha Allah semata, dia akan menjadi hamba yang beruntung dan mendapat derajat yang sangat tinggi dimata Allah.

Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Adaylami, Rasulullah bersabda, maksud hadist: “Diamnya seorang yang sedang berpuasa merupakan tasbih, tidurnya adalah ibadah, Doanya mustajab dan amalan baiknya dilipatgandakan”.

Dalam Hadist yang diriwayatkan Thobroni dan Imam Baihaqy, Rasulullah bersabda, maksud hadist: “Ibadah puasa untuk Allah, tidak ada yang mengetahui pahala yang melakukannya kecuali Allah Azza wa Jalla”. Tentunya, untuk mencapai pahala khusus dalam ibadah puasa harus memenuhi beberapa syarat/adab guna menyempurnakan ibadah seorang hamba, sebagai berikut:

Pertama, niat berpuasa karena Allah, dengan disertai hati yang hadir.
Dua, menjaga perkara-perkara yang membatalkan ibadah puasa (mufthirot) seperti, masuknya makanan/minuman ke dalam perut dengan disengaja, berhubungan badan (seks) antara suami istri di saat menjalankan puasa.

Tiga, menjaga perkara-perkara yang membatalkan pahala puasa (muhbithot) seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), berbohong, melihat wanita yang bukan mahramnya dengan sengaja disertai syahwat.

Yang lain, bersenang-senang bersama istri dengan syahwat, sumpah palsu, menjadi saksi palsu, takabur (sombong/angkuh), menjauhi makanan & minuman dari yang haram, menjauhi dari penghasilan haram, memutuskan hubungan silaturrahmi (permusuhan), berkata kotor dan keji.
Empat, bagi kaum Hawa hendaknya tidak sering keluar rumah dan apabila keluar dari rumah maka wajib menutup aurat sesuai cara syariat.

Keajaiban Lailatul Qadar
Sesungguhnya Lailatul Qadar diturunkan pada malam yang penuh barokah, rahmat dan ampunan, tidaklah seorang hamba yang taat senantiasa di malam itu memohon pada Allah, kecuali akan dikabulkan. Betapa ruginya seorang hamba bila melewatkan malam tersebut.

Maksud firman Allah itu adalah:
Satu, sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Quran) pada malam Lailatul Qadar.
Dua, dan tahukah engkau apakah Lailatul Qadar itu?
Tiga, Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
Empat, malaikat dan ruh (Jibril) turun padanya dengan izin Tuhan-nya membawa segala perintah.
Lima, sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.

Ayat tersebut merupakan nash dari Quran yang menjelaskan, bahwa Lailatul Qadar adalah kejadian luar biasa yang turun di setiap bulan suci Ramadhan. Segala amal baik yang dilakukan pada malam itu dilipatgandakan pahalanya sehingga seakan-akan seorang hamba beramal selama 1000 bulan. Rasulullah, tidak memberi tahu kepastian terjadinya malam Lailatul Qadar, agar umat Islam senatiasa menghidupkan amalan sunah dan semangat beribadah selama bulan Ramadhan.

Akan tetapi ada beberapa riwayat Hadist sahih yang menjelaskan tanda-tanda turunnya malam Lailatul Qadar akan terjadi pada hitungan tanggal malam ganjil di antara 10 malam terakhir. Umat Nabi Muhammad, diberi kesempatan untuk meraihnya (Lailatul Qadar), di mana pada malam itu para Malaikat diturunkan ke langit bumi guna mengamini dan mencari siapa saja dari Umat Muhammad, yang memohon rahmat, ampunan dan derajat yang sangat tinggi (1000 bulan) dari Allah, hingga menjelang fajar. Hanya orang taat dan bijak yang akan selalu mencari keutamaan Lailatul Qadar dan meraihnya.

Dari Ubadah Ashomid ra, berkata : “Rasulullah telah memberi kami kabar tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda: “Lailatul Qadar adalah 10 akhir di bulan Ramadhan, yaitu pada malam 21 atau malam 23 atau malam 25. Atau malam 27 atau malam 29 atau diakhir malam Ramadhan. Barang siapa menghidupkannya (shalat) dengan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang”.

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda :“Barang siapa menghidupkan (shalat) malam Lailatul Qadar dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (Muttafaqun Alaih)”.

Prediksi Terjadinya Lailatul Qadar Versi Imam Qalyubi
Dengan melihat awal hari dari bulan Ramadhan. Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu, maka kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 29. Jika awal Ramadhan hari Jum’at atau Selasa, maka kemungkinan Lailatul Qadar pada malam 27. Jika awal Ramadhan hari Kamis, kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 25.

Dan jika awal Ramadhan hari Sabtu,maka kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 23. Sedang jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin, maka kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 21. Adapun tanda tanda malam Lailatul Qodar adalah udara pada malam itu tidak panas dan tidak dingin (sedang), keesokan harinya matahari tidak terlalu panas.

Walhasil, kunci utama untuk mendapatkan “Lailatul Qadar” adalah melawan hawa nafsu (setan) dengan menghindari segala macam bentuk kemaksiatan serta meperbanyak ibadah terutama shalat malam (qiyamul lail) selama bulan suci Ramadhan atau kita menjadi hamba yang kalah melawan hawa nafsu.

Termasuk kewajiban kita untuk menjaga dan meperingatkan keluarga kita dari hal hal yang merusak moralitas Islam dan bangsa seperti menonton tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik dan merusak moral/mental umat Islam Indonesia, khususnya pada anak-anak kita.

Tentunya, tayangan-tayangan itu jika ditonton akan menggugurkan pahala ibadah puasa kita. Terlebih lagi acara maksiat tersebut ditayangkan saat menjelang waktu sahur. Semestinya mereka wajib menghormati umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, sementara pemerintah kita (MUI) terkesan apatis menanggapi tayangan yang tak bermoral tersebut.

[184] (Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit atau dalam musafir, (bolehlah dia berbuka), kemudian wajiblah dia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah), kalau kamu mengetahui.

[185] (Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah. Oleh itu, sesiapa dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah dia berpuasa bulan itu dan sesiapa yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah dia berbuka, kemudian wajiblah dia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan) dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjukNya dan supaya kamu bersyukur.

Surah Al Baqarah [Ayat 184 – 185]

WASPADA FAHAMAN ISLAM LIBERAL

Posted in Uncategorized on 26 November 2013 by zanas

adha1KALANGAN Muslim yang prihatin begitu bimbang dengan ajaran sesat dan pertelagahan sesama sendiri soal furuk (cabang) dalam agama terutama pada perkara-perkara bidaah yang timbul selepas kewafatan Rasulullah s.a.w.

Bagaimanapun, jarang yang sedar dan prihatin akan ancaman yang jauh lebih bahaya dalam memesongkan akidah serta tauhid Islami serta fitrah kemanusiaan itu sendiri dalam Islam liberal.

Sebabnya, ancaman ideologi yang jelas bercanggah dengan al-sunnah dan al-Quran melalui aliran pemikiran moden yang mengsinonimkan falsafah Islam berpaksikan akal dengan pemikiran barat yang memesongkan akidah itu sudah menjadi ‘pakaian’ dan ‘sajian’ harian hidup ummah kini.

Mengguna label Islam liberal dengan memperjuangkan hak kebebasan dan hak asasi manusia, umat Muslim sebenarnya sudah diresapi dengan ‘akidah’ liberalisme dan pluralisme yang menjadi agenda dalam doktrin Yahudi-Kristian dalam menghancurkan Islam melalui pemesongan akidah Muslim

Akidah menurut Profesor Dr. Hamka, terhimpun kepada tiga iaitu tauhid yang menjadi pokok kepercayaan tentang Keesaan Allah SWT, Al-Risalah iaitu manusia pilihan Allah yang di utus menyampaikan wahyu-Nya bagi membimbing manusia dalam kehidupan dan Al-Baats iaitu kepercayaan kepada hari berbangkit untuk kehidupan kedua yang berkekalan. (Tafsir Al-Azhar: mukadimah juzuk 17).

Ini dijelaskan menerusi firman Allah yang bermaksud: Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah (agama) Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Fitrah Allah ialah ciptaan Allah iaitu manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama iaitu agama Tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama Tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama Tauhid adalah kerana pengaruh lingkungan kehidupan). (ar-Ruum: 30).

Namun, manusiawi dan sikap kebendaan sudah mengambil alih peranan dalam kebanyakan amalan dan budaya hidup ummah era kini berbanding al-Quran dan al-sunnah sebagai pegangan untuk kekal meng-Esakan Allah SWT.

Menurut Penolong Pengarah Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM), Zamihan Mat Zain al-Ghari, fahaman sesat ada pada setiap zaman tetapi ancaman pemikiran moden mengsinonimkan Islam dengan falsafah pemikiran barat melalui liberalisme dan pluralisme adalah ancaman dan fitnah zaman ini yang jauh lebih bahaya.

Katanya, agama dan semua kepercayaan selain Islam bukan agama, sebab semuanya bersifat kemanusiaan dan perkara rekaan.

“Semua agama rekaan manusia itu tidak mungkin boleh dianggap sebagai agama. Hanya Islam yang meng-Esakan Allah SWT agama dan kepercayaan yang mutlak,” katanya.

Ini telah ditegaskan Allah SWT dalam al-Quran yang mafhum-Nya: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (ali-‘Imran: 85).

Oleh itu, kata Zamihan, hanya Islam satu-satunya agama kerana ia tidak ditokok tambah dan direkacipta oleh manusia untuk manusia.

Malah tegas beliau, Islam adalah agama yang paling cantik, komprehensif, natural, rasional dan mengikut fitrah makhluk lagi eksklusif yang tidak berubah sejak dulu, kini dan selamanya.

“Kerana kecantikan dan kesempurnaan Islamlah menyebabkan ia dicemburui oleh ‘pereka’ kepada pelbagai kepercayaan lain,” tegasnya.

Beliau berkata demikian ketika membicarakan ‘Ancaman liberalisme dan pluralisme’ pada Seminar Isu-Isu Semasa Akidah untuk kakitangan kerajaan dan badan-badan berkanun pada 10 November lalu.

Seminar sehari anjuran Bahagian Penyelidikan Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan itu diadakan di dewan serbaguna Masjid Wilayah Persekutuan Jalan Duta, Kuala Lumpur.

Ancaman Islam liberal kini kata Zamihan, amat serius kerana ia yoga.png2melibatkan secara menyeluruh di semua peringkat dari barisan kepimpinan dan pengurusan sama ada dalam politik, sosial, budaya, ekonomi dan agama itu sendiri hingga kepada individu. “Ia berbahaya kerana mereka memperjuangkan prinsip kebebasan dan rasional akal tanpa batasan,” katanya. Menurut Zamihan, kebebasan bersandarkan logik atau rasional secara terbuka tanpa had bukan sahaja menyimpang daripada landasan Islam malah melampaui syariat dan prinsip dalam al-Quran dan al-Sunnah itu sendiri.

Kata beliau, Islam berasaskan al-Quran dan al-sunnah untuk menegakkan akhlak berbeza dengan langkah menjaga moral yang dilaungkan Islam liberal.

Melalui liberalisasi agama pula tambahnya, wujud sekularisme yang menyaksikan semua perkara berkaitan urusan dunia dipisahkan daripada syariat agama.

“Usaha pembaratan ini sudah bermula sejak Perang Salib lagi kerana musuh Islam sedar Muslim tidak dapat dikalahkan selagi kita berpegang teguh akidah al-Quran dan al-sunnah,” tegasnya.

Maka itu katanya, wujud pemikiran nasionalisme, demokrasi, pluralisme politik, hak asasi manusia, feminisme, kebebasan, globalisasi dan Islam liberal memesongkan soal aqidah Muslim.

Pegawai Penyelidikan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), Rashidy Jamil Muhammad Ar-Rashid pula memberitahu, usaha terbaru proaktif memesongkan akidah Muslim adalah mengedarkan buku-buku Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kepercayaan Kristian berbahasa Melayu bertajuk Al-Kitab: Berita Baik secara percuma oleh kumpulan pendakyah Kristian.

Buku olahan baru dan semasa dari Kitab Bible dan Gospels Kristian itu juga turut dijual di kebanyakan kedai-kedai buku sebaris dengan kitab-kita Islam dengan meluas.

“Pengedaran tulisan khat arab yang dipetik dari buku-buku bible dan gospels pegangan Kristian yang menyerupai ayat-ayat al-Quran juga sedang bertebaran dan memenuhi ruang rumah, kedai, pejabat dan sesetengah tempat ibadah Muslim,” jelasnya.

Sebab itu, tegas Rashidy, umat Islam yang dangkal agama dan bahasa Arab perlu lebih berhati-hati dan prihatin dalam memilih kitab dan tulisan khat serta kaligrafi Bahasa Arab.

“Bible telah diterjemah ke dalam lebih 2,000 bahasa, tetapi Buku Al-Kitab: Berita Baik edisi Bahasa Melayu bukanlah dari Taurat dan Holy Bible Kristian yang asli,” jelasnya.

Sebaliknya kata beliau, ia mengandungi ayat-ayat untuk menyuntik idealisme Yahudi-Kristian ke pemikiran dan akidah Muslim Melayu yang membacanya.

Beliau yang banyak terlibat dalam dialog dan perdebatan mengenai Islam dan Kristian dengan paderi serta pendakyah agama seluruh dunia itu membuat pendedahan tersebut ketika membicarakan tajuk ‘Ancaman Kristianisasi di Malaysia’ pada seminar tersebut.

Menurut Rashidy, identiti Islam pada umatnya sekarang sudah hilang dan hampir seluruh kehidupan harian kebanyakan Muslim dikuasai budaya dan idealisme Kristian-Yahudi.

“Sebab itulah ramai Muslim yang terpesong akidahnya dan tidak kurang pula yang begitu mudah dimurtadkan,” ujarnya.

Sementara itu, Pegawai Hal Ehwal Islam Bahagian Hukum Hakam (Istinbat) Jabatan Mufti Selangor, Mat Jasi Kamos pula berkata, kejahilan Muslim mengenai Islam menjadi punca utama akidah mereka terpesong.

Kerana jahil katanya, ramai mengambil jalan pintas untuk ‘mendapatkan syurga’ dan mendekatkan diri dengan Allah, sehingga tidak dapat membezakan antara mukjizat, karamah (keramat) dan istidraj (luar biasa) yang dibawa oleh seseorang atau kumpulan atas nama agama.

“Akibatnya ramai yang bertuhankan kepada sesama manusia dan mereka juga taksub dengan kebendaan sehingga memesongkan akidah,” katanya.

Begitupun kata Mat Jasi, setiap individu Muslim bertanggungjawab melaksanakan dakwah bagi mengembalikan akidah Islam kepada sesama manusia.

 Sumber :http://pmr.penerangan.gov.my

PANDUAN MEWARNAKAN RAMBUT DAN MEMAKAI INAI MENURUT ISLAM

Posted in Uncategorized on 26 November 2013 by zanas

 

Sejarah mewarnakan rambutinai3
Permulaan hukum mewarna rambut ini bermula semasa zaman Rasulullah di mana baginda telah meminta Abu Quhaafah, bapa kepada Abu Bakar al-Siddiq untuk mewarnakan rambut dan janggutnya yang berwarna putih tetapi menjauhi warna hitam.

Ini bermakna warna hitam tidak boleh digunakan, warna yang sesuai ialah warna inai yang kekuningan. Ini kerana warna hitam akan menyebabkan Abu Quhaafah yang tersangat tua itu akan menjadi muda. Ini wujud penipuan usia dalam Islam.
Islam adalah agama yang mementingkan kebersihan dari kecantikan. Ini selaras dengan sabda nabi SAW yang bermaksud : “Sesungguhnya Allah itu cantik dan sukakan kecantikan dan ia bersih dan sukakan kebersihan“.
Oleh yang demikian, perbuatan mewarnakan rambut selain daripada warna hitam adalah harus dengan syarat pewarna tersebut tidak mengandungi bahan-bahan najis dan telap air serta tidak bertujuan untuk menunjukkan kecantikan kepada orang lain.

 

inai01 

Produk  pewarna Rambut

Panduan berhias menurut Islam dari segi mewarnakan rambut dan berinai adalah seperti berikut:
1. Mewarnakan rambut
Mewarnakan rambut dengan inai tidak salah dan dibenarkan Islam sebagaimana fatwa Yusuf Qadrawi : “Sebahagian dari perkara yang tergolong di dalam masalah perhiasan ialah mewarnakan rambut dan janggut yang telah beruban. Telah datang satu riwayat yang memperjelaskan bahawa orang-orang Yahudi dan Nasrani enggan mewarnakan rambut dan mengubahnya dengan beranggapan, antaranya berhias dan memperelok diri itu dapat menghindarkan erti peribadatan dalam agama. Sebagaimana yang dilakukan oleh para rahib dan ahli zuhud yang bersikap berlebih-lebihan”.

2. Warna rambut yang dibenarkan bagi orang tua
Tidak dibenarkan menggunakan warna hitam untuk mewarnakan rambut yang telah beruban. Sabda Rasulullah SAW kepada Abu Qufahah yang beruban rambutnya “Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam” (HR Muslim).

3. Warna rambut yang dibenarkan bagi orang muda
Orang-orang yang lebih muda dari Abu Qufahah, tidak berdosa mewarnakan rambut dengan warna hitam. Dalam masalah ini al-Zuhri berkata “Kami mewarnakan rambut dengan warna hitam apabila wajah masih kelihatan muda, tetapi apabila wajah telah berkedut dan gigi telah goyang,kami tinggalkan warna hitam” (Fathul Bari).

4. Bahan untuk pewarna rambut
“Sebaik-baik bahan yang digunakan untuk mewarnakan rambut yang beruban ialah pokok inai dan katam” (HR Tirmizi & Ashabussunan).
Katam ialah sejenis pokok yang tumbuh di Yaman yang mengeluarkan pewarna berwarna hitam kemerah-merahan.

5. Pewarna komersial
Apa-apa produk boleh digunakan selagi ia bebas dari najis dan tidak menghalang air untuk sampai ke anggota wuduk atau ketika mandi hadas.

6. Pemakaian inai
Muzakarah Jawatankuasa Majlis Fatwa Kebangsaan bersidang pada Oktober 2009 memutuskan pemakaian inai  pada kedua tangan dan kaki adalah diharuskan bagi wanita sama ada  sudah berkahwin atau belum selagi tidak menimbulkan fitnah.
Walau bagaimana pun ianya terhad pada pergelangan tangan atau kaki sahaja, dan warnanya tidak boleh yang bersifat kekal seperti tatu atau dari bahan-bahan yang meragukan.

7. Inai ukir
Inai ukir dibenarkan dengan syarat corak-coraknya adalah dari unsur daun dan tumbuh-tumbuhan. Tidak dibenarkan menggunakan corak haiwan, watak dewa dewi atau ajaran dan apa jua lambang yang bertentangan dengan ajaran Islam.

8. Pewarna kuku
Pewarna kuku (cutex) diharamkan kerana ia menghalang air wuduk untuk sampai. Sebaliknya penggunaan daun inai diharuskan sekiranya berniat berhias untuk suami. Lagipun daun inai banyak khasiatnya.

 Penggunaan pewarna rambut untuk tujuan mewarna mestilah menepati tiga syarat iaitu :
–  Boleh menyerap air supaya air sembahyang dan mandi wajib sah.
– Tidak mengandungi bahan yang kemudaratan pada kulit ,

–  Bahan tidak bercampur dengan najis.

Nabi SAW bersabda : “Barang siapa yang mewarnakan rambutnya dengan warna hitam, nescaya Allah akan menghitamkan wajahnya di akhirat kelak” (Al-Haithami, bagaimanapun Ibnu Hajar berkata seorang perawinya agak lemah, bagaimanapun rawi tersebut diterima oleh Imam Yahya Mai’en dan Imam Ahmad).

Kesimpulan
a) Hadis larangan adalah menujukan kepada larangan penipuan umur yang tua akibat tua dan uban maka dihitamkan bagi kelihatan lebih muda. Tidak kira dari kalangan lelaki mahupun perempuan. Ia dilarang oleh Islam.
b) Adapun hadis yang mengharuskan adalah dalam keadaan dan sebab-sebab yang diiktiraf oleh syarak, seperti perang bagi menakutkan musuh, ataupun ia tidak mengandungi unsur penipuan, seperti merawat penyakit dan lain-lain.

Artikel disunting dari sumber : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM)
                                                      Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan
                                                      Laman Web Halaqah

Institusi raja bukti konsep ketuanan Melayu masih relevan

Posted in Uncategorized on 21 November 2013 by zanas

 

 

AGUNG1Sistem politik dan pemerintahan tradisi Melayu meletakkan raja atau sultan sebagai pemerintah tertinggi yang diberikan sepenuh ketaatan dan kesetiaan. Sistem ini berlangsung berabad lamanya. Ketika berlangsungnya penjajahan British di Tanah Melayu, Sultan masih

lagi mempunyai kuasa untuk hal tertentu bagi negeri masing-masing. Kedudukan mereka masih dianggap berdaulat ketika itu.

Apabila perlembagaan moden Persekutuan Tanah Melayu digubal oleh British, pengiktirafan terhadap kepentingan sistem beraja tetap diambil kira dengan meletakkannya sebagai Raja berperlembagaan. Ia menjadi sebahagian elemen penting dalam Perlembagaan Persekutuan. Menurut Tun Salleh Abbas (1997), apabila kemerdekaan diberikan kepada Tanah Melayu, institusi beraja dikekalkan dengan beberapa pindaan untuk disesuaikan dengan konsep demokrasi berparlimen dan Raja berperlembagaan. Ia sekali gus melambangkan Raja Melayu adalah kesinambungan sejarah dan warisan negara. Kewujudan institusi Raja menjadi sebahagian daripada identiti negara dan ia dilindungi oleh perlembagaan. Ia disebut di dalam Perkara 159(5) yang menjelaskan bahawa tiada pindaan boleh dibuat terhadap peruntukan berhubung dengan Majlis Raja-Raja, susunan keutamaan dan hak-hak mereka untuk warisan sebagai raja negeri masing-masing tanpa persetujuan Majlis Raja-Raja.
Perkara 71 pula menjamin hak seseorang raja dalam negeri baginda untuk mewarisi, memegang, menikmati dan menjalankan hak-hak keistimewaan di sisi Perlembagaan. Demikian juga Perkara 38(4) menyebut bahawa tiada undang-undang yang secara langsung menyentuh keistimewaan, kedudukan, kemuliaan atau kebesaran mereka boleh diluluskan tanpa persetujuan Majlis Raja-Raja. Institusi raja dianggap penting dalam menjamin kestabilan negara kerana ia menjadi ‘payung negara’, menaungi seluruh rakyat yang terdiri daripada pelbagai kaum dan anutan kepercayaan agama. Ini adalah selari dengan Perkara 32(1) yang meletakkan kedudukan baginda sebagai ‘Ketua Negara’ dan selaras dengan kedudukannya sebagai Raja berperlembagaan, baginda perlu mengikut nasihat jemaah menteri atau menteri yang diberi kuasa oleh jemaah menteri (Perkara 39 dan 40).
Bagi orang Melayu institusi Raja berperlembagaan dengan fungsinya yang tertentu penting bagi ‘survival’ orang Melayu. Ini dapat difahami di dalam Perkara 153 yang mana ia meletakkan Yang di-Pertuan Agong bertanggungjawab untuk melindungi dan memelihara kedudukan istimewa orang Melayu dan Bumiputera Sabah dan Sarawak. Ia termaktub di bawah klausa (2) Perkara 153.
Berdasarkan Perkara 153, Yang di-Pertuan Agong, atas nasihat perdana menteri atau Kabinet berkuasa menyelamatkan kedudukan istimewa orang Melayu dan Bumiputera di Sabah dan Sarawak dengan menentukan bagi mereka kedudukan dalam perkhidmatan awam, agihan biasiswa atau pendidikan atau latihan atau kemudahan lain yang diberikan oleh kerajaan termasuk permit atau lesen perniagaan.
Peruntukan 153 tidak boleh dipinda tanpa persetujuan Majlis Raja-raja seperti yang digariskan di bawah Perkara 159(5). Selain itu, kedudukan istimewa orang Melayu juga terkandung dalam Perkara 89 dan 90 yang memberi kuat kuasa undang-undang melindungi tanah rizab orang Melayu daripada diselenggarakan oleh orang bukan Melayu. Demikian juga pasukan Rejimen Askar Melayu hanya boleh dianggotai oleh orang Melayu saja seperti dikuatkuasakan oleh Perkara 8(5)(f).
Di dalam Perlembagaan negeri yang memiliki raja pula menetapkan Raja Melayu bagi negeri-negeri Melayu hendaklah orang Melayu dan oleh kerana itu ia orang Islam. Ini bermakna Yang di-Pertuan Agong yang dipilih di kalangan Raja-Raja Melayu itu juga adalah seorang Melayu dan beragama Islam. Justeru, institusi raja turut melambangkan kedaulatan dan kuasa Islam di negara ini.
Kesimpulan, institusi Raja seperti yang terkandung di dalam Perlembagaan Persekutuan adalah satu pengiktirafan oleh penggubal perlembagaan yang memahami sejarah, warisan dan tradisi masyarakat dan kedaulatan politik Melayu.
Mereka memahami bahawa ketuanan Melayu sudah pun mengakar lama dengan kewujudan kuasa raja yang menjadi pemerintah di negeri-negeri Melayu, iaitu berabad-abad lamanya sebelum British bertapak di negara ini. Kuasa-kuasa yang diperuntukkan kepada Yang di-Pertuan Agong, terutama dalam Perkara 153 adalah untuk memelihara kedaulatan Melayu.

Pandangan Datuk Dr Haron Din tentang isu kalimah Allah [Bhg2]

Posted in Uncategorized on 14 Januari 2013 by zanas

MENDAULATKAN MARTABAT BANGSA

Adat bersaudara, saudara dipertahankan; adat berkampung, kampung dijaga; adat berbangsa, perpaduan bangsa diutamakan.