Archive for November, 2009

SALAM AIDIL ADHA 1430 H

Posted in 2151 on 25 November 2009 by zanas

SALAM AIDIL ADHA KEPADA SEMUA PENGUNJUNG DAN RAKAN-RAKAN BLOGGER MAAF ZAHIR BATIN...ZANAS...

MERAIH TAQWA MELALUI IBADAH QURBAN

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.

Sebuah ayat yang menjadi pertanda disyari’atkannya ibadah qurban adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.[1]

Penyembelihan qurban ketika hari raya Idul Adha disebut dengan al udh-hiyah, sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah tersebut.[2] Sehingga makna al udh-hiyyah menurut istilah syar’i adalah hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, dilaksanakan pada hari an nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat tertentu.[3]

Dari definisi ini, maka yang tidak termasuk dalam al udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih bukan dalam rangka taqorrub pada Allah (seperti untuk dimakan, dijual, atau untuk menjamu tamu). Begitu pula yang tidak termasuk al udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih di luar hari tasyriq walaupun dalam rangka taqarrub pada Allah. Begitu pula yang tidak termasuk al udh-hiyyah adalah hewan untuk aqiqah dan al hadyu yang disembelih di Mekkah.[4]

Catatan: Aqiqah adalah hewan yang disembelih dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran anak yang diberikan oleh Allah Ta’ala, baik anak laki-laki maupun perempuan. Sehingga aqiqah berbeda dengan al udh-hiyyah karena al udh-hiyyah dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat kehidupan, bukan syukur atas nikmat kelahiran si buah hati. Oleh karena itu, jika seorang anak dilahirkan ketika Idul Adha, lalu diadakan penyembelihan dalam rangka bersyukur atas nikmat kelahiran tersebut, maka sembelihan ini disebut dengan sembelihan aqiqah dan bukan al udh-hiyyah.[5]

Hikmah di Balik Menyembelih Qurban

Pertama: Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.

Kedua: Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –khalilullah (kekasih Allah)- ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

Ketiga: Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.[6]

Keempat: Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang semisal dengan hewan qurban.[7]

Raihlah Ikhlas dan Takwa dari Sembelihan Qurban

Menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (Qs. Al Kautsar: 2)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. Al An’am: 162). Di antara tafsiran an nusuk adalah sembelihan, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj mengatakan bahwa bahwa makna an nusuk adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah ‘azza wa jalla, namun umumnya digunakan untuk sembelihan.[8]

Ketahuilah, yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, dan bukan hanya daging atau darahnya. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Qs. Al Hajj: 37)

Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah qurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari qurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), “ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan.[9]

Menyembelih Qurban Wajib ataukah Sunnah?

Menyembelih qurban adalah sesuatu yang disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus kaum muslimin).[10] Namun apakah menyembelih tersebut wajib ataukah sunnah? Di sini para ulama memiliki beda pendapat.

[Pendapat pertama] Diwajibkan bagi orang yang mampu

Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Di antara dalil mereka adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar: 2). Hadits ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya.[11] Dan masih ada beberapa dalil lainnya.

[Pendapat kedua] Sunnah dan Tidak Wajib

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu’akkad. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, ‘Umar bin Khottob, Bilal, Abu Mas’ud Al Badriy, Suwaid bin Ghafalah, Sa’id bin Al Musayyab, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.”[12] Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri.

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan ‘Umar tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib[13]. Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka. [14]

Dari dua pendapat di atas, kami lebih cenderung pada pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih qurban sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakr dan Umar yang pernah tidak berqurban. Seandainya tidak ada dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah yang kuat bahwa qurban tidaklah wajib namun sunnah (dianjurkan).

فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا

“Jika kalian mengikuti Abu Bakr dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk.”[15]

Namun sudah sepantasnya seorang yang telah berkemampuan untuk menunaikan ibadah qurban ini agar ia terbebas dari tanggung jawab dan perselisihan yang ada. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.” Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu a’lam.”[16]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan ibadah yang mulia ini dan menerima setiap amalan sholih kita. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amalan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

Khamis 26 Nov 2009 – 9 Zulhijjah 1430H, PUASA SUNAT (HARI ‘ARAFAH)

Posted in Uncategorized on 25 November 2009 by zanas

arafah02

Hari Arafah merupakan hari yang mempunyai kelebihannya yang tersendiri. Jika para jemaah haji diwajibkan berada di padang Arafah untuk wuquf di sana, kita yang tidak berkesempatan untuk menunaikan haji pula digalakkan untuk berpuasa pada hari ini. Kedatangannya setahun sekali ini janganlah disia-siakan. Kita juga digalakkan untuk berzikir dan berdoa kepada Allah pada hari ini. Di sini dipetik  sebuah hadis untuk renungan kita bersama.

Hadits Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” [HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah]

Puasa hari ‘Arafah ialah puasa sunat pada hari kesembilan Dzulhijjah yang disunatkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah haji. Kelebihan berpuasa pada hari ini ialah ia dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, sebagaimana hadith yang telah diriwayatkan daripada Abu Qatadah al-Anshari ra:

Dan Rasulullah SAW ditanya tentang berpuasa di hari ‘Arafah. Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Manakala bagi mereka yang melakukan ibadah haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti al-Harith:

Ramai di kalangan sahabat Rasulullah SAW yang ragu-ragu tentang berpuasa pada hari ‘Arafah sedangkan kami berada di sana bersama Rasulullah SAW, lalu aku membawa kepada Baginda satu bekas yang berisi susu sewaktu Baginda berada di ‘Arafah lantas Baginda meminumnya. (Hadith Riwayat Imam Muslim)

Juga daripada hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:

Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada Hari ‘Arafah bagi mereka yang berada di ‘Arafah. (Hadith Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’ie; at-Thabrani dari Aisyah rha) [1]

Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Dzulhijjah di samping berpuasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Dzulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Dzulhijjah (Hari ‘Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari, iaitu dari hari yang pertama bulan Dzulhijjah hingga ke hari yang kelapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari ‘Arafah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra:

Rasulullah SAW bersabda: “Tiada amal yang soleh yang dilakukan pada hari-hari lain yang lebih disukai daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dalam bln Dzulhijjah).” (Hadith Riwayat al-Bukhari)

Dalam hadith yang lain yang diriwayatkan dari Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari beberapa isteri Nabi SAW:

Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, di hari ‘Asyura dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya. (Hadith Riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’ie)

Adapun berpuasa pada hari Aidiladha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah diharamkan berdasarkan hadith yang diriwayatkan dari Umar ra:

Bahawasanya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, iaitu ‘Eid al-Adha dan ‘Eid al-Fitr. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud)

Serta hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:

Rasulullah SAW telah mengirimkan Abdullah Ibn Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingati Allah.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan) [2]

Allahu a’lam bisshawab..

——————————————————

[1] al-Imam as-Syaf’ie rh berpendapat; “Disunatkan puasa pada hari ‘Arafah bg mereka yang tidak mengerjakan ibadah haji. Adapun bg yang mengerjakan ibadah haji, adalah lebih baik untuknya berbuka agar ia kuat berdoa di ‘Arafah.” Dari pendapat Imam Ahmad rh pula; “Jika ia sanggup berpuasa maka boleh berpuasa, tetapi jika tidak hendaklah ia berbuka, sbb hari ‘Arafah memerlukan kekuatan (tenaga).” Begitu juga dengan para sahabat yang lain, lebih ramai yang cenderung untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah ketika mengerjakan ibadah haji

[2] Ulama Syafi’iyyah membenarkan untuk berpuasa pada hari tasyrik hanya untuk keadaan tertentu seperti bersumpah, qadha puasa di bulan Ramadhan serta puasa kifarah (denda). Puasa tanpa sebab tertentu pada hari-hari ini (puasa sunat) adalah ditegah.

Kebesaran bulan Zulhijjah

Posted in 2151 on 23 November 2009 by zanas

Oleh: PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

keadaan jemaah haji di Padang Arafah ketika wukuf setiap tahun.


 

DALAM kekecohan beberapa isu dan bencana alam yang melanda negara kita mutakhir ini, sedar atau tidak, hari ini kita telah pun melangkah masuk ke dalam bulan Zulhijjah.

Untuk sama-sama menghayati kebesaran dan anugerah yang disediakan dalam bulan Zulhijjah, maka ruangan Relung Kasih menangguhkan persoalan Tauhid Tiga Serangkai yang sepatutnya disambung pada minggu ini.

Dengan ‘inayah dan ri’ayah Allah pastinya, maka pada hari ini kita dikurniakan lagi untuk kesekian kalinya nikmat bulan Zulhijjah yang besar fadilat dan ertinya.

Bulan Zulhijjah bukanlah bulan hanya bagi tetamu Allah tetapi bulan istimewa bagi seluruh umat Islam yang peka dengan waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah dan bijak mengambil peluang bagi meraih curahan rahmat, maghfirah (keampunan) dan keredaan-Nya.

Sesungguhnya pada kejadian Allah SWT terdapat benda-benda, masa-masa, tempat-tempat dan insan-insan yang dibesarkan dan dimuliakan oleh-Nya.

Di antaranya ialah kaabah, Hajar Aswad, zamzam, bulan Ramadan, hari Jumaat, 10 terawal bulan Zulhijjah, Mekah, Madinah, Baitul Maqdis, para Nabi, Rasul dan sebagainya.

Kesemua perkara itu merupakan syiar Allah yang diperintahkan supaya dibesarkan sebagaimana firman-Nya: Demikianlah (ajaran Allah); dan sesiapa yang menghormati syiar-syiar agama Allah maka (dialah orang yang bertaqwa) kerana sesungguhnya perbuatan itu satu kesan dari sifat-sifat takwa hati (orang Mukmin). (al-Hajj: 32)

Dalam bulan Zulhijjah, Allah menganugerahkan masa-masa yang dibesarkan dan dimuliakan oleh Allah. Iaitu sepuluh hari terawal bulan Zulhijjah, Hari Arafah, Aidil Adha dan Hari Tasyriq.

Sesungguhnya, Allah SWT telah bersumpah dengan Fajar Aidil Adha dan 10 malam bulan Zulhijjah dalam surah al-Fajr ayat 1 dan 2: Demi waktu fajar Aidil Adha; dan malam 10 Zulhijjah (yang mempunyai kelebihan di sisi Allah).

Kita maklumi, Allah tidak bersumpah dengan suatu perkara melainkan kerana kemuliaan dan kepentingan perkara tersebut. Allah telah menganugerahkan pada 10 malam terawal bulan Zulhijjah dengan kelebihan-kelebihan yang lebih besar dan hebat daripada malam-malam yang lain.

Banyak hadis yang menerangkan tentang kelebihan hari-hari ini dan kelebihan amalan yang dilakukan padanya. Di antaranya, sebagaimana yang disebut di dalam hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a, bahawa Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada dari hari-hari yang dilakukan amal soleh padanya yang lebih disukai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Sahabat r.a bertanya, Wahai Rasulullah! Dan tidakkah juga berjihad fi sabilillah (lebih afdal daripada beramal pada hari-hari ini)? Rasulullah SAW bersabda, “Tidak juga berjihad fi sabilillah, kecuali orang yang berjihad dengan diri dan hartanya dan kemudian dia syahid”. (riwayat al Bukhari)

Ulama berdalilkan hadis ini sebagai galakan atau sunat berpuasa pada sembilan hari daripada 10 hari terawal bulan Zulhijjah kerana puasa juga termasuk dalam kategori amalan soleh.

Perkara ini disebut oleh al Hafiz Ibnu Hajar r.a, Rasulullah SAW juga bersabda: “Berpuasa sehari dalam bulan ini (hari yang ke-9) menyamai puasa 1000 hari dan sehari puasa pada hari Arafah menyamai puasa 10,000 hari”.

Daripada Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada dari hari-hari yang lebih dikasihi Allah untuk dipenuhi dengan ibadah kepada-Nya daripada 10 hari terawal dari bulan Zulhijjah; puasa setiap hari daripadanya menyamai puasa setahun, solat pada setiap malam daripadanya menyamai solat pada malam al-Qadar”.

Bahkan, disunatkan bagi orang yang mahu melakukan korban menahan dirinya terlebih dahulu daripada memotong kukunya dan mencukur bulu sama ada pada kepala, muka dan badannya. Iaitu, bermula dari masuknya bulan Zulhijjah hinggalah selesai melakukan ibadah korban.

Hal ini berdasarkan hadis Ummu Salamah, bahawa Nabi SAW bersabda: “Apabila masuk hari yang 10 Zulhijjah, dan seseorang dari kamu mahu berkorban, maka jangan disentuh rambut dan kulitnya sedikitpun”.

Di dalam satu riwayat yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat anak bulan Zulhijjah, dan seseorang dari kamu mahu berkorban, maka hendaklah ditahan dari memotong rambut dan kukunya”.

Ini sebagai menunjukkan terbukanya pintu penerimaan Allah terhadap amal yang dilakukan pada hari-hari yang berkat ini, kerana Allah Yang Maha Mulia apabila Dia kasih atau suka kepada sesuatu, maka Dia akan menerimanya.

Kesimpulannya, maksud yang paling utama dari hadis ini, kita digalakkan melakukan amal yang disukai dan diredai Allah pada hari-hari tersebut, sekalipun amalan yang mudah dan tidak sulit untuk dilakukan.

Sekiranya tidak mampu untuk berjihad, berpuasa atau bersedekah, janganlah pula berasa lemah untuk melakukan ibadah yang lain seperti solat sunat, tasbih dan tahlil. Kadang kala amal yang sedikit dan mudah itu besar nilainya di sisi Allah dan lebih dikasihi-Nya.

Hari Arafah

Hari Arafah ialah hari para jemaah haji mengerjakan wukuf di Arafah iaitu pada 9 Zulhijjah. Ia terkenal sebagai kemuncak bagi segala amalan atau rukun haji.

Allah yang bersifat Maha Pemurah memuliakan dan membesarkan hari tersebut dengan mencurahkan rahmat dan keampunan kepada hamba-hamba-Nya yang berdoa dan meminta keampunan kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari yang lebih banyak pembebasan dari neraka daripada hari Arafah”. Justeru pada hari tersebut, kita amat digalakkan supaya memperbanyakkan doa dan istighfar. Daripada Abdullah ibn Amru r.a berkata: “Kebanyakan doa Nabi SAW pada hari Arafah ialah “Tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah; Yang Maha Esa tanpa ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Di dalam kekuasaan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”.

Di antara doa bagi memohon keampunan dan pembebasan dari api neraka ialah:

“Ya Allah! Bebaskanlah tengkukku daripada api neraka, luaskanlah untukku dengan rezeki yang halal dan palingkanlah (hindarilah) daripadaku jin dan manusia yang fasiq”.

Kita juga disunatkan berpuasa pada hari Arafah kerana Rasulullah SAW bersabda: “Puasa pada hari Asyura akan mengkafarahkan dosa setahun (sebelumnya). Manakala puasa hari Arafah, akan mengkafarahkan dosa dua tahun; setahun sebelumnya dan setahun selepasnya yang akan datang”.

Sebagaimana yang disebut di dalam hadis, bahawa Rasulullah SAW berdoa pada petang hari Arafah agar diampunkan dosa-dosa umatnya termasuk orang yang zalim. Apabila Allah memakbulkan doanya, Baginda SAW tersenyum kerana melihat iblis mengambil tanah lalu menaburnya di atas kepalanya sambil mengeluh panjang apabila mengetahui doa Baginda SAW dimakbulkan dan dosa-dosa umatnya diampunkan.

Aidil Adha

Solat hari raya merupakan khususiat/keistimewaan umat ini seperti solat istisqa’ (minta hujan) dan kusuf (gerhana matahari).

Di antara dua solat hari raya, solat Aidil Adha lebih afdal daripada solat Aidilfitri kerana terdapat nas dari al-Quran yang menyebut tentangnya, sebagaimana firman Allah SWT: Oleh itu, kerjakanlah solat (Aidil Adha) kerana Tuhanmu semata-mata, dan sembelihlah korban (sebagai bersyukur). (al Kauthar: 2)

Dalil ini juga menunjukkan bahawa ibadah yang dituntut pada Aidil Adha bukan setakat ibadah jasad iaitu solat tetapi juga ibadah yang melibatkan pengorbanan harta iaitu melakukan korban.

Ibadah korban merupakan sunat muakkad bagi umat Islam dan makruh meninggalkannya bagi orang yang berkemampuan. Rasulullah SAW sendiri memberi amaran kepada orang yang enggan berkorban.

Ini sebagaimana sabdanya: “Sesiapa yang mempunyai kemampuan untuk berkorban tetapi tidak berkorban, maka jangan hadir di tempat solat kami”.

Sesiapa yang melakukan korban pada hari tersebut, akan diampunkan dosanya dan ahli rumahnya pada titik pertama darah sembelihan korbannya.

Sesiapa yang memberi makan dan bersedekah dengannya, akan dibangkitkan pada hari Kiamat sebagai orang yang mendapat keamanan dan timbangannya lebih berat daripada Jabal Uhud.

Aidil Adha adalah Aidil Akbar (Raya Terbesar) bagi umat ini kerana banyaknya pembebasan dari neraka atau pengampunan dosa yang dianugerahkan oleh Allah pada hari sebelumnya iaitu hari Arafah.

Tidak dilihat pembebasan dari neraka yang lebih banyak daripada pembebasan pada hari Arafah seperti yang disebut dalam hadis. Sesiapa yang telah dibebaskan, maka keesokannya adalah hari raya baginya.

Sekiranya tidak, maka dia berada jauh dari rahmat Allah dan dijanjikan dengan seburuk-buruk balasan. Justeru, sementara kita masih diberi ruang dan kemampuan, marilah bersama-sama kita merebut peluang keemasan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita semata-mata kerana kasih dan sayang-Nya terhadap kita.

Nik Aziz sudah terlalu takbur

Posted in 2151 on 23 November 2009 by zanas

TUMPAT 22 Nov. – Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat perlu bertanggungjawab terhadap kekeliruan dan perpecahan di kalangan umat Islam yang dicetuskan oleh kenyataan-kenyataan mengenai agama yang disesuaikan dengan kepentingan politiknya.

Pengasas Pondok Geting, Abdullah Sa’amah, 64, berkata, beliau membuat teguran secara terbuka itu biarpun akan dimusuhi kerana tindak-tanduk Mursyidul Am Pas itu sudah keterlaluan dan diselubungi rasa takbur.

Beliau yang juga Ahli Majlis Tertinggi Persatuan Pondok Kelantan berkata, banyak kenyataan Nik Abdul Aziz tidak bersandarkan ijtihad ulama dan beliau mentafsirkan al-Quran berdasarkan pemahaman sendiri yang sentiasa disesuaikan dengan kepentingan tertentu.

”Bagi saya, beliau bukan lagi Mursyidul Am,” katanya kepada Utusan Malaysia ketika ditemui di madrasahnya di sini baru-baru ini.

Beliau yang lebih dikenali sebagai Tok Guru Haji Lah berkata, teguran yang dibuat oleh Persatuan Pondok Kelantan ditolak mentah-mentah oleh Menteri Besar Kelantan itu termasuk memorandum yang dihantar kepadanya pada penghujung tahun lepas.

“Teguran dibuat agar beliau lebih berhati-hati supaya tidak memesongkan akidah, tetapi beliau seolah-olah menyamakan kami dengan ahli UMNO sedangkan kami berjumpa dengannya penuh rasa hormat.

“Malah, saya sendiri pernah dua kali mengunjungi rumahnya bagi mendapatkan penjelasan mengenai situasi semasa tetapi gagal menemuinya,” katanya.

Beliau berkata demikian ketika mengulas mengenai pelbagai kenyataan yang dikeluarkan Nik Abdul Aziz sebelum ini dalam memberi gambaran terhadap sifat Allah dan Nabi Muhamad SAW.

Ia juga berhubung penolakan Nik Abdul Aziz terhadap pembentukan kerajaan perpaduan, penghargaan terhadap orang bukan Islam membaca al-Quran dan isu penjualan arak yang berleluasa di Selangor.

Terbaru ialah mengenai isu Nik Abdul Aziz menerima tajaan untuk menunaikan haji pada musim ini dan soal orang ramai cuba mengambil keberkatan melalui dirinya.

Abdullah menarik perhatian bahawa kebanyakan kenyataan yang dibuat oleh Nik Abdul Aziz tidak selari sama sekali dengan aliran Sunnah Wal Jamaah malah lebih bersifat Wahabi.

“Nik Abdul Aziz berasa alim disebabkan dia mempunyai ijazah sarjana tetapi bab keseluruhan agama seperti akidah, tasawur, fikah dan usuluddin (dia) terlalu jahil, dia bukan Mursyidul Am,” katanya.

“Madrasah saya terikat kerana masalah dasar saja iaitu al-Quran dan hadis. Dari situ saya muafakat (dengan Pas) tetapi pembawaan Nik Abdul Aziz dari segi akidah dan fikah saya menentang selama-lamanya dan habis-habisan.

“Bukan saya suka nak memecah-belah atau menghuru-harakan masyarakat, kita berani dan bersedia nak berdebat dengannya seperti dalam ceramahnya sebelum ini yang menyatakan Nabi Muhammad SAW masa kecil sama dengan orang kampung seperti kita,” katanya.

Beliau juga amat kecewa dengan tindakan melulu Nik Abdul Aziz menolak cadangan penubuhan kerajaan perpaduan sedangkan ia menyentuh kepentingan umat Islam dan kuasa politik Islam.

Katanya, dalam keadaan sebegini, tentunya wajib bagi Pas dan UMNO bekerjasama bagi menjaga kedaulatan agama kerana situasi politik pada masa kini amat membimbangkan apatah lagi rakan politik Pas secara terang-terangan menolak pemerintahan Islam.

“Beliau terlalu takbur, tanpa sebarang perbincangan beliau telah menolak cadangan kerajaan perpaduan kerana syak wasangka. Perkara yang lepas (Pas keluar dari UMNO) biarlah berlalu, sekarang orang lain yang menerajui UMNO. “Kita wajib mempertahankan kedaulatan orang Islam walaupun kita kata mereka (UMNO) tidak berdasarkan Islam.

“Dasar UMNO begitu disebabkan terdesak pada mula-mula penubuhannya disebabkan tekanan British dan kurang pengalaman dalam agama,” ujarnya. Menurutnya, selepas 50 tahun mentadbir negara, UMNO yang menjadi tulang belakang perkembangan Islam di Malaysia terus berada di barisan hadapan pemerintahan

Sumber : Utusan Malaysia

DILEMA POLITIK KEDAH

Posted in MEDIA on 23 November 2009 by zanas

Oleh Zulkiflee Bakar

MUNGKIN kalau mahu menyedapkan hati, tidak salah jika ada mana-mana pihak buat seketika menerima sahaja kenyataan UMNO Kedah yang menolak andaian wujudnya kumpulan dan puak tertentu dalam parti berkenaan sehingga menyebabkan parti itu di negeri tersebut berpecah belah.

Malah tidak salah juga jika kita menerima dengan hati terbuka kenyataan Timbalan Pengerusi Badan Perhubungan UMNO Kedah, Datuk Ahmad Bashah Md. Hanipah bahawa, semua pemimpin dan ahli UMNO serta Barisan Nasional (BN) khususnya di peringkat bahagian termasuk Pergerakan Pemuda, Wanita dan Puteri sentiasa memberi sokongan kepada pucuk pimpinan termasuk Pengerusi badan itu, Datuk Seri Shafie Apdal.

Tetapi UMNO Kedah tidak boleh menghalang kalau orang bertanya apakah kenyataan itu sekadar retorik atau realiti dan lebih daripada itu, apakah sindrom penafian masih wujud di kalangan pemimpin parti tersebut biarpun kini mereka sudah kehilangan kuasa?

Mungkin pemimpin-pemimpin UMNO Kedah berhak menolak sebarang andaian atas alasan ia ‘‘cuma persepsi orang yang mungkin tidak berada dalam parti’, tetapi mereka tidak mampu menyembunyikan fakta.

Dalam soal ini, selain maklumat yang diterima dan tinjauan yang dibuat, penulis berkesempatan mengetahui situasi sebenar politik di Kedah termasuklah peluang untuk UMNO kembali berkuasa. Tidak dapat dinafikan bahawa UMNO sememangnya berpeluang untuk merampas semula negeri itu daripada Pas seperti mana kata seorang pemerhati politik, peluang BN ialah 60-40 bukan 50-50.

Tetapi semua itu bergantung kepada keikhlasan pemimpin-pemimpin UMNO Kedah untuk mengakui kelemahan dan memperbaikinya. Masalah yang paling ketara menurut pemerhati politik tersebut ialah di peringkat bahagian. Atas sebab itulah, pemerhati berkenaan menolak sebarang andaian untuk meletakkan sebarang kelemahan atau kesalahan kepada Shafie Apdal.

‘‘Kalau orang tahu apa sebenarnya berlaku di bahagian-bahagian UMNO di Kedah, mereka akan memahami siapapun yang menjadi Pengerusi Perhubungan UMNO negeri itu, ia tidak akan berkesan.

‘‘Ia kerana bahagian-bahagian UMNO di Kedah sangat lemah, justeru tidak wajar kalau kita hendak menyalahkan Shafie. Beliau hanya dihantar oleh pucuk pimpinan bagi membantu tetapi sama ada akan berjaya atau tidak ia terletak kepada bahagian-bahagian UMNO menentukannya,’’ kata pemerhati politik tersebut.

Dalam soal ini, semua pemimpin UMNO di Kedah harus bertindak jujur, mereka perlu mengakui daripada 15 bahagian di negeri itu hampir kesemua ada masalah. Sikap berpuak-puak, cantas-mencantas dan pergelutan antara kumpulan yang ingin merebut jawatan ketua bahagian telah memungkinkan bahagian-bahagian UMNO berada dalam situasi yang cukup lemah. Oleh itu menuding jari kepada Shafie adalah sesuatu tindakan yang tidak wajar dan boleh diibaratkan hanya mahu menutupi kelemahan di peringkat bahagian.

‘‘Kebanyakan ketua bahagian hanya menguasai satu pertiga atau satu perenam sahaja bahagian masing-masing, lainnya semua di luar kawalan mereka,’’ kata pemerhati itu lagi.

Jika keadaan ini berlanjutan maka adalah mustahil bagi mana-mana juga pengerusi perhubungan untuk melaksanakan usaha bagi mengukuhkan parti dan seterusnya berhadapan dengan parti lawan dalam pilihan raya.

Akibat kelemahan di peringkat bahagian itu juga yang menjadi faktor utama kenapa sehingga ke hari ini, UMNO Kedah dilihat tidak berupaya untuk memberi sebarang cabaran bagi merampas kembali negeri itu daripada Pas.

Selesa

Sama ada hendak diakui atau tidak, adalah jelas walaupun apa juga yang dikatakan oleh UMNO dan BN Kedah kepada pentadbiran kerajaan negeri pimpinan Pas, namun di kalangan rakyat mereka dilihat semakin selesa dengan situasi sekarang. Dalam bahasa mudah, bak kata orang Kedah, ‘‘Biaq (biar) Pas perintah, tak dak masalah pun.’’. Mungkin kenyataan seumpama ini tidak disenangi oleh sesetengah pemimpin-pemimpin Kedah tetapi inilah realitinya selepas hampir 20 bulan, negeri Jelapang Padi itu berada dalam penguasaan Pas.

Di bawah kepimpinan Datuk Seri Azizan Abdul Razak, Pas Kedah dikatakan semakin mendapat perhatian rakyat. Malah sikap Azizan yang sentiasa tenang dan tidak melakukan sebarang perubahan drastik yang boleh memaparkan kegelojohan apabila berkuasa seperti mana berlaku di Perak dan Selangor turut memberi kelebihan kepada kerajaan negeri pimpinan beliau.

Berdasarkan hakikat itulah, jika UMNO Kedah masih lagi dihinggapi dengan sindrom penafian dan membiarkan kelemahan di peringkat bahagian berterusan, percayalah apa yang berlaku di Kelantan akan berulang di negeri tersebut.

Dahulu UMNO Kelantan juga sering menafikan bahawa mereka berpuak-puak, malah setiap kali isu perpecahan dibangkitkan mereka menuduh media mempunyai agenda. Tetapi realiti di lapangan menunjukkan apa yang diperkatakan adalah satu kebenaran dan kesudahannya sejak tahun 1990 hinggalah sekarang Pas terus menguasai Kelantan.

Malah suatu ketika berikutan kekalutan yang berlaku dalam UMNO Kelantan, Tun Dr. Mahathir Mohamad yang ketika itu Presiden UMNO turut menjadi Pengerusi Perhubungan UMNO negeri.

Tetapi keadaan tidak berubah, Kelantan tetap gagal dirampas kembali oleh UMNO kerana pemimpin-pemimpin negeri itu terus bercakaran sesama sendiri.

Persoalannya apakah UMNO Kedah juga hendak membiarkan situasi ini berlaku di negeri mereka? Justeru bagi mengelakkan semua itu mahu tidak mahu pemimpin- pemimpin UMNO Kedah perlu berjiwa besar.

Mereka mesti bersikap terbuka untuk menerima teguran dan janganlah terlalu mudah melihat sebarang kritikan sebagai usaha menjatuhkan mana-mana pemimpin. Paling penting mereka harus memberi sokongan padu kepada Shafie dalam usaha memperkukuhkan UMNO negeri itu.

Shafie memerlukan sokongan padu yang sebenar-benarnya dan bukannya lakonan dalam usaha memastikan Kedah kembali ke pangkuan BN.

Keputusan pucuk pimpinan parti menghantar Shafie ke Kedah bukanlah tanpa alasan sebaliknya seperti mana kata Ahli Parlimen Jerlun, Datuk Mukhriz Mahathir kehadiran Naib Presiden UMNO itu adalah tepat pada masanya.

‘‘Beliau terlibat secara langsung dalam menawan semula Sabah ketika menjadi pembangkang. Kita perlukan pengalaman beliau bagi memikirkan strategi dan pendekatan terbaik bagi menawan semula Kedah. Pada masa yang sama saya melihat bapa saya sentiasa sedia untuk membantu UMNO negeri dan pusat.’’ kata Mukhriz.

Selain berganding bahu dengan Shafie, pemimpin-pemimpin UMNO Kedah juga harus mengakui bahawa ada masalah di peringkat bahagian-bahagian, kalau pun fakta ini dinafikan tetapi rakyat di kawasan terlibat mengetahui kedudukan sebenar.

Mereka juga perlu bersedia untuk menerima perubahan kepimpinan termasuklah memberi peluang kepada pemimpin-pemimpin muda untuk menerajui negeri itu.

Sekali lagi penulis mendapati sentimen yang mahukan Mukhriz kembali menjadi salah seorang pemimpin utama di Kedah cukup kuat.

‘‘Mukhriz harus berkorban, beliau perlu berkhidmat di Kedah biarpun sepenggal, apabila situasi sudah pulih dan UMNO Kedah sudah mantap, Mukhriz boleh meneruskan perjuangan di peringkat pusat.

‘‘Situasi politik di Kedah memerlukan pemimpin muda seperti beliau yang dilihat mempunyai karisma dan mampu menarik perhatian rakyat negeri itu untuk kembali menyokong UMNO dan BN,’’ kata seorang penganalisis politik ketika dihubungi.

Penulis difahamkan pada masa ini memang terdapat ramai pemimpin muda yang mula menonjolkan diri di bahagian- bahagian tetapi malangnya kehadiran mereka tidak begitu senangi sehingga berlaku cantas-mencantas.

Semua ini tidak akan menguntungkan UMNO dan BN, sebaliknya ia akan mengakibatkan parti itu akan ketandusan barisan pelapis yang akhirnya akan mengakibatkan ia berkubur begitu sahaja.

‘‘Mahu tidak mahu seperti juga di Terengganu, pucuk pimpinan UMNO perlu mencari daripada sekarang siapa bakal Menteri Besar Kedah kalau parti itu kembali memerintah.

‘‘Strategi ini penting dalam meyakinkan rakyat untuk menyokong BN,’’ kata seorang pemimpin veteran parti itu. Apa pun keadaannya, adalah diharapkan UMNO Kedah akan terus bersikap terbuka dalam memperbaiki pelbagai kelemahan yang mereka miliki.

Dalam soal ini, perkara paling utama ialah bersikap ikhlas dan tidak bersikap hipokrit apatah lagi terus mengamalkan sindrom penafian. Jika sikap negatif itu berterusan, percayalah tidak mustahil panji-panji Pas akan terus tertegak di negeri tersebut seperti mana terjadi di Kelantan ibarat ‘pi mai pi mai tang jugak’.

Permohonan SPR isu kerusi Kota Siputeh diketahui Isnin

Posted in 2151 on 22 November 2009 by zanas

KUALA LUMPUR 20 Nov. – Permohonan Suruhanjaya Pilihan Raya (SPR) untuk menangguhkan keputusan yang mengisytiharkan kekosongan kerusi Dewan Undangan Negeri (DUN) Kota Siputeh sementara menunggu rayuan, akan diketahui pada 23 November ini.

Hakim Mahkamah Tinggi (Bahagian Rayuan dan Kuasa-Kuasa Khas) Datuk Alizatul Khair Othman Khairuddin menetapkan tarikh tersebut selepas selesai mendengar hujah SPR yang diwakili Peguam Kanan Persekutuan, Datuk Kamaluddin Md. Said.

Kerusi kawasan Kota Siputeh diisytiharkan kosong oleh Hakim Alizatul pada Isnin lalu ekoran kegagalan penyandangnya, Datuk Abu Hassan Sarif menghadiri dua persidangan Dewan secara berturut-turut pada 19 April dan 9 Ogos lalu.

Dalam penghakimannya, beliau turut mengeluarkan perintah untuk membatalkan keputusan SPR pada 1 September lalu yang memutuskan kerusi DUN tersebut masih disandang oleh Abu Hassan.

Mahkamah yang sama juga mengeluarkan perintah terhadap SPR untuk mengeluarkan writ bagi mengadakan pilihan raya bagi DUN Kota Siputeh.

Ekoran keputusan tersebut, SPR mempunyai masa selama 60 hari dari tarikh pengosongan kerusi untuk mengadakan pilihan raya kecil.

Selain SPR, Abu Hassan yang tidak berpuas hati dengan keputusan Hakim Alizatul turut memfailkan rayuan.

Pada prosiding hari ini, Kamaluddin berhujah, perbelanjaan mengadakan pilihan raya kecil akan membabitkan penggunaan wang rakyat dalam jumlah yang besar.

Bagi menyokong permohonan tersebut, Kamaluddin mendedahkan SPR terpaksa membelanjakan RM200,365 bagi pilihan raya umum yang lalu untuk kerusi DUN Kota Siputeh yang mempunyai 17 saluran.

Menurut beliau, sekiranya penangguhan itu ditolak dan pilihan raya kecil diadakan sebelum Mahkamah Rayuan membuat keputusan, ia akan memprejudiskan pengundi yang mengundi Abu Hassan pada pilihan raya umum yang lalu.

Namun tambah beliau, tiada pihak dalam permohonan itu yang haknya diprejudiskan sekiranya mahkamah membenarkan permohonan penangguhan pelaksanaan perintah pengosongan kerusi.

Peguam Datuk Mohd. Hafarizam Harun yang mewakili Abu Hassan menyokong permohonan SPR dengan menyatakan, jika penangguhan tidak dibenarkan, ia akan menjurus kepada penyalahgunaan proses mahkamah.

Peguam Sulaiman Abdullah yang mewakili Speaker DUN Kedah, Datuk Dr. Abdul Isa Ismail membantah permohonan penangguhan kerana sebaik sahaja kerusi diistiharkan kosong maka SPR bertanggungjawab mengendalikan pilihan raya kecil.

Husam letak jawatan?

Posted in 2151 on 22 November 2009 by zanas

Oleh AZRAN FITRI RAHIM
azran.rahim@utusan.com.my

KOTA BHARU 21 Nov. – Timbalan Pesuruhjaya II Pas Kelantan, Datuk Husam Musa dikatakan mahu melepaskan semua jawatan dalam parti dan juga kerajaan yang merupakan satu lagi episod yang menggambarkan perpecahan dan kekusutan dalam parti itu.

Namun hasrat itu tidak dipersetujui oleh Mursyidul Am Pas yang juga Menteri Besar Kelantan, Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat.

Nik Aziz sebaliknya memberikan cuti selama lima hari bermula hari ini kepada Husam yang juga exco kanan kerajaan negeri untuk berehat dan menenangkan fikiran.

Tindakan Husam untuk melepaskan semua jawatan dalam parti dan kerajaan yang dikatakan berpunca daripada pendedahan kemelut dalaman Perbadanan Menteri Besar Kelantan (PMBK) yang diterajui Ir. Abdul Ariffahmi Ab. Rahman.

Abdul Ariffahmi yang kini sedang disiasat Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) merupakan menantu Nik Abdul Aziz. Namun Pas Kelantan melalui Setiausaha Badan Perhubungannya, Mohd. Zaki Ibrahim berkata, perkara itu hanya khabar angin dan mereka tidak mahu mencampuri isu yang dihadapi Nik Abdul Aziz kerana menyifatkan ia tidak ada kena-mengena dengan politik.

Sumber memberitahu, hasrat Husam untuk berundur telah dikemukakannya kepada Nik Abdul Aziz yang juga Pesuruhjaya Pas Kelantan pada pertemuan empat mata Selasa lalu.

“Husam bertemu dengan Nik Abdul Aziz untuk menjelaskan bahawa beliau tidak terlibat atau menjadi dalang di sebalik apa yang berlaku dalam PMBK dan penjelasan itu diterima, tetapi hasratnya untuk meletakkan jawatan ditolak.

“Nik Abdul Aziz telah mengumumkan Husam cuti selama lima hari bermula hari ini pada mesyuarat Badan Perhubungan Pas Kelantan di kediaman rasminya, JKR 10 pagi tadi. Beliau (Husam) tidak hadir pada mesyuarat ini,” kata sumber itu kepada Mingguan Malaysia di sini hari ini.

Hari ini, sebuah portal berita melaporkan Husam mendakwa wujud konspirasi untuk menyingkirkan beliau daripada pentadbiran kerajaan negeri dengan mencetuskan perbalahan di antara beliau dengan Nik Abdul Aziz.

Malah khabar angin menyatakan bahawa Mursyidul Am Pas itu sedang menimbangkan untuk menggugurkan Husam daripada barisan Exco Kelantan ekoran isu pemecatan Syed Azidi Syed Abdul Aziz sebagai Pengarah Perhubungan Korporat PMBK minggu lalu.

Syed Azidi yang lebih dikenali dengan laman blognya Kickdefella, pula dilihat sebagai antara orang kanan Husam. Sumber itu berkata, dalam tempoh cuti tersebut, Husam juga akan menjalani pembedahan tulang belakang selepas ditangguhkan sejak dua bulan lalu.

“Husam sebelum ini beberapa kali menyatakan kesediaannya untuk berundur sekiranya beliau menjadi liabiliti kepada parti. “Tetapi khidmat beliau masih diperlukan dalam membantu Nik Abdul Aziz mentadbir negeri ini,” katanya.

Sementara itu, Mohd. Zaki menafikan perkara tersebut dan menyifatkannya sebagai khabar angin. Katanya, Pas Kelantan tidak mahu mencampuri isu berkaitan yang dihadapi Nik Abdul Aziz kerana menyifatkan ia tidak ada kena-mengena soal politik.

“Ia khabar angin sahaja dan jika benar sudah tentu dalam mesyuarat hari ini ada dibincangkan (perkara ini). “Kita tidak pernah membincangkan soal ini, sebaliknya ia masalah pentadbiran yang boleh diselesaikan sendiri Tok Guru (Nik Aziz) selaku Menteri Besar,” katanya.

MENDAULATKAN MARTABAT BANGSA

Adat bersaudara, saudara dipertahankan; adat berkampung, kampung dijaga; adat berbangsa, perpaduan bangsa diutamakan.